Rabu, 23 November 2011

Masih Adakan Nilai Pancasila?


Setiap tahun pada tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari kelahiran Pancasila, berbagai kegiatan diadakan untuk memperingatinya, Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia, merupakan suatu jati diri bangsa . ideology diartikan sebagai kesatuan gagasan-gagasan dasar yang disusun secara sistematis dan dianggap menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya, baik sebagai individu, social, maupun dalam kehidupan bernegara. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4  
Setiap butir dalam Pancasila memiliki makna dan nilai – nilai diantaranya:
a.      Nilai Ketuhanan
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
b. Nilai Kemanusiaan
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.
c. Nilai Persatuan
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia..
d. Nilai Kerakyatan
Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.
e. Nilai Keadilan
Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atauun batiniah. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan normatif. Karena sifatnya abstrak dan normatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya. Sebagai nilai dasar, nilai-nilai tersebut menjadi sumber nilai. Artinya, dengan bersumber pada kelima nilai dasar diatas dapat dibuat dan dijabarkan nilai-nilai instrumental penyelenggaraan negara Indonesia.
Setiap nilai tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia.
Setiap nilai nilai tersebut seharusnya direalisasikan dalam kehidupan warga negara Indonesia agar tercapainya masyarakat yang makmur dan sejatera.       Tetapi yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah nilai – nilai pancasila sudah diterapkan? Di manakah posisi Pancasila itu sekarang? Apakah Pancasila bisa disebut sebagai ideologi? Ataukah Pancasila hanya falsafah belaka yang tidak berdimensi apa-apa selain sebagai sebuah dogma atau sekumpulan nilai yang bersifat normatif? Pada zaman yang era globalisasi ini, apakah masih ada masyarakat Indonesia yang mengamalkan nilai nilai Pancasila?
           Pada saat Ini nilai-nilai Pancasila sudah mulai berkurang di Indonesia, Pancasila hanya dianggap sebagai satu kata yang sering disebut banyak kalangan seperti para calon pejabat agar nantinya terpilih sebagai pejabat, para pejabat tinggi pun menjadikan Pancasila sebagai alat mencapai kekuasaan, tetapi setelah menjadi pejabat nilai nilai Pancasila tidak direalisasikan.
           Kehidupan sehari-hari masyarakat telah melenceng jauh dari nilai-nilai pancasila. Panxasila sudah tidak lagi dijadikan sebagai suatu aspek terpenting yang menjadi pedoman hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini dapat kita lihat dengan rendahnya kualitas moral dan akhlak masyarakat Indonesia. Rasa kebersamaan, toleransi, saling tolong-menolong, nilai-nilai persatuan, nilai-nilai keagaman dan segala nilai yang terkandung dalam pancasila itu sudah jarang kita temui dalm kehidupan masyarakat sekarang. Yang kita lihat sekarang hanyalah maraknya pornografi, penggunaan narkoba, tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswa, dan kasus korupsi yang semakin merajalela di kalangan pemerintahan.
           Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Globalisasi. Globalisasi mungkin memang salah satu penyebab memudarnya nilai-nilai pancasila ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Walaupun globalisasi banyak positifnya, tetapi yang banyak didapatkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah dampak negatifnya. Globalisasi membuat bangsa Indonesia lupa akan identitas bangsanya sendiri, mereka lebih suka dengan kehidupan gaya barat. Globalisasi membuat rasa individualisme masyarakat semakin tinggi, sehingga nilai solidaritas terhadap sesama semakin berkurang. Ini semua bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Tapi kita tidak bisa hanya dengan menyalahkan globalisasi. Itu semua bisa terjadi karena lemahnya karakter bangsa kita sendiri, karena kesalahan kita sebagai warga negara.
           Sebenarnya pendidikan tentang Pancasila sudah dipelajari sejak bangku sekolah dasar,setiap siswa dibekali ilmu-ilmu tentang penerapan Pancasila, bahkan sampai ke tingkat perguruan tinggipun setiap mahasiswa dibekali ilmu-ilmu tentang nilai-nilai Pancasila. Namun pada saat ini jika kita bertanya pada anak-anak sekolah dasar atau bahkan kepada mahsiswa masih ada beberapa orang yang belum bisa menyebutkan kelima butir dari Pancasila, pada hal ini siapakah yang patut disalahkan?
           Untuk menyikapi pertanyaan diatas, kita sebaiknya menyadari diri masing-masing, kita tidak perlu menyalahkan oknum-oknum tertentu, yang paling penting adalah kesadaran diri, betapa pentingnya nilai-nilai Pancasila.
           Selain itu diperlukan kerjasama antar pihak-pihak tertentu misalnya sekolah, perguruan tinggi dengan pemerintah dan berbagai lembaga lainnya. Salah satu contohnya suatu sekolah menerapkan nilai-nilai Pancasila, jadi seorang siswa tidak hanya mendapatkan nilai tentang pendidikan Pancasila di kelas, tapi juga bisa menerapkan langsung dalam keseharian.
           Selain dari pihak pemerintah, mahasiswa, pihak-pihak lain pun juga perlu diberi penjelasan betapa pentingnya nilai-nilai Pancasila diantaranya masyarakat umum yang belum mengerti arti Pancasila, pihak-pihak pemerintah ataupun suatu lembaga bisa memberikan pelatihan ke luarah-lurah atau desa-desa
           Jika setiap warga negara Indonesia telah mengerti betapa pentingnya nilai Pancasila, maka negara ini akan makmur dan jaya, walaupun terdapat perbedan Ras, agama, suku dan adat, tetapi seluruh masayarakat Indonesia tepaut dalam satu Ideologi Pancasila.
           Penanaman kembali nilai-nilai pancasila ini harus dilakukan sesegera mungkin sebelum nilai-nilai tersebut benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dan dalam hal ini tugas kitalah sebagai bangsa Indonesia sendiri untuk mengembalikan nilai-nilai tersebut.
Sumber:



S Hanny Lismora Idrus
1112003004
thryta.vino@ymail.com
Teknik Industri, Universitas Bakrie, Jakarta Selatan

Diberi kebebasan, mengacuhkan tanggung jawab


Setiap orang pasti mengenal demokrasi, apalagi setelah lahirnya era reformasi, demokrasi menjadi seperti air dan gula yang menjadi satu dengan masyarakat. Demokrasi bukanlah hal yang umum lagi bagi masyarakat Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa demokrasi di Indonesia sudah menjadi suatu budaya, dengan maksud demokrasi sudah menjadi sesuatu yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia dan eluruh kehidupan warga Indonesi diwarnai oleh nilai-nilai demokrasi. Namun, apakah penggunaan demokrasi sudah benar? Sudahkah bangsa Indonesia menyadari apa arti sesungguhnya berdemokrasi? Apakah demokrasi di Indonesia sudah sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya? Demokrasi sebenarnya merupakan suatu kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, namun bebas yang diartikan oleh bangsa kita, Indonesia, masih belum benar. Masih ada beberapa orang yang melalampaui garis batas bebas tersebut, bahkan di media massa kita sering mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Pemahaman yang dimengerti tentang demokrasi oleh setiap orang berbeda-beda, maka dari itu tidak semua orang menjalani demokrasi dengan sejalan, ke arah yang lebih positif.
Pada kenyataannya, demokrasi diterapkan untuk menciptakan masyarakat yang madani. Menurut sebuah buku, masyarakat madani adalah masyarakat dengan ciri-cirinya yang terbuka, egaliter, bebas dari tekanan negar. Di negara Indonesia, masyarakat madani hanya dapa dilihat dari segi teori, namun apabila dilihat dari kenyataannya masih banyak warga Indonesia yang tidak memiliki ciri – ciri dari masyarakat madani itu. Di beberapa kalangan telah diterapkan sifat terbuka, namun terbuka yang bagaimanakah itu? Terbuka disini yang dimaksud adalah terbuka dalam konteks – konteks wajar, bertanggung jawab, dan tidak merusak. Tetapi, apakah yang terjadi pada bangsa Indonesia? Lagi – lagi kesalah pahaman tentang arti keterbukaan.
Penerapan demokrasi di Indonesia masih kurang layak, masih banyak aksi brutal yang mengatas namakan “demokrasi”, padahal, menyampaikan pendapat, tidaklah harus dengan berdemonstrasi, meskipun warga Indonesia diberi kebebasan berpendapat, seharusnya para demonstran brutal menyadari, demokrasi bukanlah suatu awal dari kehancuran, tetapi demokrasi adalah pintu menuju arah kebajikan, karena seharusnya, jika suatu negara memiliki sistem demokrasi, negara itu akan berkembang jauh lebih pesat dari negara lainnya. Mengapa? Karena dengan adanya demokrasi, semua pendapat tersalur, dan semakin banyak argumen argumen yang dapat memanjukan sebuah negara, makin banyak kritik dan saran untuk memperbaiki sebuah bangsa, bahkan rakyatnya pun seharusnya lebih kompetitif untuk membuat suatu hal yang dapat memperbaiki bangsanya.
Bagimanakah cara menanganinya? Yang dibutuhkan adalah kesadaran akan apa itu arti demokrasi yang sebenarnya, kesadaran akan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat suatu negara demokrasi lebih maju. Dapat kita lihat, penyalahgunaan arti demokrasi banyak terjadi pada tahun 1998. Disini terjadi pengalaman pahit yang menimpa Pancasila, banyak pemberontakan dimana mana, banyak manipulasi atas pancasila, banyak terjadi pelanggaran HAM dimana – mana. Dalam kejadian itu sangat minim sekali kesadaran akan apakah demokrasi itu sebenarnya. Tidak hanya pada tahun 1998, pada kenyataannya, sekarang banyak orang yang melanggar demokrasi. Contohnya saja FPI, FPI adalah suatu gerakan yang sebenarnya ingin membawa Indoensia kearah yang lebih baik, memperbaiki akhlak warga Indonesia, dan memprotes semua yang sesat. Namun, apakah cara yang FPI gunakan benar? Tentu tidak. Demokrasi seharusnya disampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan cara brutal yang dapat menimbulkjan efek kehancuran, karena aksi brutal bukan hanya merugikan yang di protes, namun asset negara, fasilitas – fasilitas negara juga dapat rusak dengan aksi – aksi brutal para pembrontak. Demonstrasi atas nama rakyat tetapi aset publik milik rakyat dihancurkan juga. Bahkan terkadang demonstrasi merugikan dan menimbulkan keresahan rakyat. Bukan hanya itu, para mahasiswa yang seharusnya menjadi calon generasi selanjutnya juga ikut melakukan penyalahgunaan arti makna demokrasi. Seharusnya mahasiswa lebih mengerti akan arti demokrasi, karena mahasiswa adalah calon penerus bangsa yang berpendidikan. Tetapi pada masa kini alangkah banyak mahasiswa yang melakukan aksi butal, penyalah gunaan arti demokrasi, mengatas namakan demokrasi, padahal mereka hanya memenangkan keegoisan mereka, untuk mendapatkan kepuasan pribadi atas menangnya pendapat mereka yang padahal sama sekali tidak ada manfaatnnya.
Bukan hanya dari segi kebrutalan, namun kita bias lihat dari satu sisi yang seakan akan aman, dan menghargai demokrasi. Contohnya pemilihan umum. Masih banyak hal hal mengganjal dalam pemilu yang seharusnya dihapuskan. Pemilu adalah seuatu media dimana rakyat dapat menyalurkan pendapatnya dengan memilih pemimpin mana yang cocok untuk membangun Indonesia. Mengadakan pemilu juga merupakan suatu usaha untuk mewujudkan masyarakat yang madani. Di dalam pemilu terdapat aspek demokrasi yang begitu besar di dalamnya. Namun bagaimana dengan kenyataannya? Faktanya dalam pelaksanaannya saja masih ada hal hal ganjal. Contohnya, belum ada pemilu di Indonesia yang benar benar bersih, pada saat pemilihan presiden 2009, masih ada beberapa pelanggaran yang terjadi di setiap partai yang sengaja dilakukan di daerah yang berbeda beda, seperti yang telah diberitakan di suatu situs berita.
Untuk mengatasi hal itu semua diperlukan kesadaran akan arti demokrasi. Demokrasi bukan hanya berarti kebebasan, tetapi demokrasi juga menghargai, tentu dengan disertai pertanggungjawaban. Seharusnya demokrasi menjadikan masyarakat dapat hidup mandiri dengan tidak banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain. Alangkah lebih baik, jika demokrasi yang bangsa Indonesia terapkan sekarang adalah menghargai kebebasan untuk berpendapat dalam membangun Indonesia kearah yang lebih baik.

Sumber :
Ubaedillah, A,;Rozak,Abdul.2008. Pendidikan Kewarganegaraan : Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani

S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan

Kok Anak Indonesia Lebih Suka Kartun Buatan Negara lain ? Dimanakah Identiatas Nasional Mereka?


Masa kini kebanyakan anak anak lebih suka menonton film animasi buatan luar negeri seperti Jepang, Inggris, Amerika, bahkan Malaysia. Bukannya bangsa kita tidak memiliki kemampuan yang sama, hanya saja karya anak bangsa kurang dihargai. Contohnya saja kartun Upin dan Ipin, kartun Upin dan Ipin adalah hasil karya anak bangsa yang tidak laku dijual di perfilman kartun Indonesia, Upin Ipin tersebut dibuat mahasiswa dari ITB, mereka menawarkan kepada pengusaha dalm negeri namun tidak ada yang mau membelinya. Akhirnya Negara tetangga kita Malaysia membelinya, dan apa yang terjadi sekarang? Film Upin dan Ipin digemari oleh anak anak Indonesia. Alangkah tidak pekanya bangsa kita, membuang karya yang cemerlang dan pada akhirnya karya itu dibeli oleh Negara lain, dan sekarang karya itu semakin terkenal. Itulah bangsa Indonesia, selalu mengalah sebelum berperang. Tidak ada satupun home production yang berani mengambil resiko untuk membeli film Upin dan Ipin lalu memproduksinya sebagai film Indonesia. Lihat, apa yang terjadi sekarang, bangsa kita hanya dapat berkata “Kami bangga, karena film Upin dan Ipin adalah hasil karya anak bangsa.” Namun apa? Karya itu telah dibeli oleh bangsa lain, dan telah menjadi hak milik bangsa lain. Anak bangsa sekarang telah menggemari film itu bukan sebagai film Indonesia, tetapi sebagai film Negara lain.
Dalam kehidupan sehari hari saja, kita bisa melihat kebanyakan anak anak Indonesia lebih menyukai film kartun seperti Naruto, Spongebob, Upin dan Ipin, Dragon Ball dibandingkan dengan film asli buatan Indonesia Unyil, yang menceritakan kebudayaan Indonesia. Dalam kenyataannya kita bisa membuktikan, Tanya saja kepada salah satu anak tentang Upin Ipin lalu tanyakan tentang Unyil, tentu saja sebagian besar dari mereka lebih mengetahui tentan Upin Ipin.  "Kalau menurut saya, film animasi dari luar negeri seharusnya dilarang beredar. Kita kadang harus meniru China yang sangat memihak industri kreatif dalam negeri. Stop impor animasi!" seperti  yang dikutip dari http://bataviase.co.id/node/332538 ihat saja kutipan itu, ia sangat menentang beradarnya film luar negeri di Indonesia, itu dapat membuat anak Indonesia kehilangan identatas nasionalnya, karena dengan menonton film animasi buatan luar negeri, mereka mendapatkan pengetahuan budaya luar negeri, bukan budaya Indonesia. Sejak kecil saja mereka sudah dijejali berbagai asupan film luar negeri, lama kelamaan anak anak Indonesia tidak mengenal lagi bangsa mereka sendiri. Hal ini terjadi karena budaya bahwa menganggap impor itu lebih populer di banding produk lokal. Selain itu, kurangnya innovator juga menyebabkan rendahnya produk kartun Indonesia. Walaupun sudah banyak creator namun tidak akan berjalan tanpa adanya innovator yang dapat mendukung para creator untuk membuat karya karya merera.
Lihat saja pada kenyataannya, yang mana yang lebih ditunggu anak anak Indonesia, tentu mereka lebih menunggu sponge bob pada sore hari, kebanding menonton laptop si Unyil pada sore harinya. Padahal film film anak Indonesia menyisipkan banyak edukasi tentang Indonesia.  Bagaimana tidak kebudayaan kita dicuri oleh bangsa lain, sedangkan bangsa kita saja tidak begitu menyadari identitas bangsanya, para orang tua dengan santainya membiarkan anak mereka terpaku menonton kartun buatan luar negeri. Tidak hanya dari pihak pemroduksi film kartun, namun dari pihak orang tuanya pun harus kita perhatikan, apakah mereka sendiri menyadari efek dari menonton film kartun buatan luar negeri untuk anak anak mereka. Bukan tidak ada pergerakan untuk memunculkan lagi film anak anak buatan Indonesia, ada, namun bagaimana bisa itu semua dihindari, sedangkan film kartun luar negeri saja masih beredar luas di stasiun stasiun Indonesia.
Suatu kenyataan lagi yang sering kita jumpai, banyak anak anak yang meniru niru kebudayaan luar negeri lewat film yang telah mereka tonton. Contohnya saja mulai dari cara berbicara, mereka senang berbicara mengikuti logat Upin dan Ipin daripada menirukan gaya bicara pak Ogah di film Unyil. Sungguh sesuatu yang sangat mengenaskan di kancah perfilman anak anak Indonesia. Kalau dari kecil saja mereka suda tidak mengenali bangsanya sendiri bagaimana mereka pada saat besar nanti? Bagaimana bangsa kita bisa maju? Sedangkan generasi penerusnya saja tidak memiliki identitas nasional, tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan bahkan tidak tahu apa yang menjadi identitas bangsanya. Ini semua memerlukan perhatian yang sangat lebih dari kita semua. Biasakan anak anak Indonesia mencintai apa yang menjadi produksi bangsa mereka sendiri, jangan terus jejali apa yang di produkasi dari bangsa lain. Bantulah anak Indonesia memiliki Identitas Nasional sedini mungkin. Kepada para industrial kartu di Indonesia juga diperlukan pehatiannya, agar sadar akan peran kartun Indonesia dalam hal pengembangan identitas nasional dari diri seorang anak berusia dini.

Referensi :
http://goyangkarawang.com/2010/10/film-upin-dan-ipin-di-tpi-dan-film-anak-lainnya-di-stasiun-tv-indonesia/




S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan