Semenjak
sekolah dasar kita diajarkan tentang identitas masing-masing dari berbagai
negara, termasuk negara kita sendiri tentunya. Keanekaragaman membuat Indonesia
memiliki lebih dari satu macam identitas, salah satu contohnya adalah;
Indonesia disebut sebagai Negara Agraris. Sebagai negara agraris, sepatutnya
Indonesia menyediakan suplai hasil pertanian untuk negara non-agraris yang
membutuhkan. Namun realita menunjukkan hal yang jauh menyimpang. Ternyata
masyarakat Indonesia sendiri pun masih banyak yang keterbatasan bahkan
kekurangan pangan. Padahal Indonesia
memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah. Pengolahan, pengaturan dan
pendistribusian hasil pangan pun telah di-handle
oleh pihak yang berwenang, yang dalam hal ini adalah pemerintah. Namun mengapa masih sering terlihat rakyat
yang kelaparan di negara kita? Siapa yang patutnya disalahkan? Apakah memang
sepenuhnya tanggung jawab sebuah pihak?
Negara belum
bisa memenuhi kebutuhan pangan untuk rakyatnynya sendiri. Masih banyak
rakyatnya yang kelaparan. Di ibu kota, Jakarta yang adalah kota metropolitan
pun masih terlihat banyak rakyatnya yang kelaparan. Bahkan pernah ada seorang
pemulung di kolong tol Tangerang meninggal akibat kelaparan. Bukan karena fakta bahwa Jakarta hanya
memiliki sedikit lahan untuk dijadikan sawah ataupun kebun untuk menanam bahan
pangan. Jika memang bahan pangan didistribusikan dengan baik, tidak akan ada
rakyat Indonesia yang kelaparan. Jadi, ini masalah pendistribusian bahan
pangan? Tidak juga. Di daerah yang ‘sebenarnya’ kaya akan sumber daya alam
sering tersimak bahwa masih ada rakyatnya yang kelaparan. Mengapa hal ini
acapkali terjadi di negara kita, negara agraris?
Ironis
memang melihat liputan-liputan para reporter yang ditampilkan dalam acara
berita di berbagai macam stasiun televisi. Liputan tentang Indonesia kekurangan
bahan pangan sehingga harus mengimpornya dari negara lain. Bahkan beras pun
yang menjadi bahan pangan pokok masyarakat negara juga termasuk dalam list bahan pangan yang harus diimpor.
Salah satu negara yang menjadi tujuan impor beras adalah Thailand. Thailand
merupakan negara agraris penghasil beras. Padalah jika dibandingkan, lahan
Indonesia lebih luas daripada lahan yang dimiliki Thailand.
Sesungguhnya
Indonesia bisa menjadi pemasok bahan pangan untuk dunia, lantaran memiliki
lahan yang luas. Tidak hanya lahan, Indonesia memiliki potensi yang mendukung
aktivitas pertanian seperti tanah yang subur dan iklim tropis. Pengaturannya
pun telah dihandle oleh pemerintah. Lagi-lagi, pertanyaan mengapa selalu
melintas. Harus diakui, petani-petani yang dapat disebut sebagai bagian dari
pahlawan bahan pangan kurang diperhatikan oleh pemerintah. Proses pembibitan, penanaman, sampai pemupukan
tanaman bahan pangan saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan jaminan
kesejahteraan untuk petani itu sendiri. Lantaslah penghasilan bahan pangan
tidak tersedia dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya,
apalagi untuk ekspor sehingga Indonesia bisa dilihat betul oleh dunia sebagai
negara agraris.
Berdasarkan
data BPS, selama semester I 2011 (Januari-Juni), Indonesia telah mengimpor
bahan pangan, baik mentah maupun olahan, senilai 5,36 milliar dollar AS atau
sekitar 45 triliun rupiah dengan volume impor mencapai 11,33 juta ton. BPS
mencatat, Indonesia mengimpor sedikitnya 28 komoditi pangan mulai dari beras,
jagung, kedelai, gandum,terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging
ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur,kelapa,
kelapa sawit, lada, teh,kopi, cengkeh, kakao, cabai segar dingin, cabai kering
tumbuk, cabai awet, tembakau dan bahkan singkong alias ubi kayu juga diimpor. (sumber : ekonomi kompasiana.com)
Ahsan, seorang pedagang sembako di Pasar Jambu
Dua, Bogor mengatakan bahwa harga sembako meningkat karena pemasokan barang
yang kurang. Menurutnya, harga bahan sembako yang berasal dari Indonesia lebih
tinggi daripada barang yang di-impor. Bawang misalnya, sebagian besar bawang
yang terdapat di pasaran saat ini adalah bawang impor dari Cina. Harganya pun
lebih murah daripada bawang dari negara sendiri. Ia memberi saran agar
pemerintah melihat dan memperhatikannya tanah sehingga kualitas dan jumlah
sembako bisa memenuhi kebutuhan pasar. [sumber : video youtube.com (dilampirkan di bawah)]
Jika dilihat
dari nilai impor komoditi pangan yang begitu tinggi, dapat dikatakan Indonesia
sebagai negara agraris belum bisa mengambil kedaulatan pangan untuk rakyatnya.
Ironis memang. Namun itulah
kenyataannya. Banyak lulusan mahasiswa
bahkan sampai professor ahli pertanian di Indonesia yang sepatutnya terlibat
dan berkecimplung pada aktivitas pertanian. Dengan begitu pertanian di Indonesia
akan berjalan lancar. Dan sekiranya pemerintah menaruh perhatian yang lebih
serta memaksimalisasikan aktivitas pertanian termasuk para penggerak yang
terlibat didalamnya, tidak akan lagi terdengar di media
bahwa “Indonesia, negara agraris pengimpor bahan pangan”.
Lampiran video wawancara dengan pedagang sembako di Pasar Jambu Dua, Bogor
Referensi :
Wibisono, Koenta.(2005).
kewarganegaraan/Edisi/ Ke-3/Jilid 1. Yogyakarta.Penerbit Yudisthira.
http://www.detiknews.com/read/2010/12/16/174124/1526709/10/pemulung-tewas-kelaparan-di-kolong-tol-tangerang
Rizka Pramudhita Lestari
1112003018
rizkapl@yahoo.co.id
Teknik Industri, Universitas Bakrie, Jakarta Selatan
Tugas Refleksi Diri, Citizenship Semester 1 -Identitas Nasional-
Rizka Pramudhita Lestari
1112003018
rizkapl@yahoo.co.id
Teknik Industri, Universitas Bakrie, Jakarta Selatan
Tugas Refleksi Diri, Citizenship Semester 1 -Identitas Nasional-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar