Setiap orang pasti mengenal demokrasi, apalagi setelah
lahirnya era reformasi, demokrasi menjadi seperti air dan gula yang menjadi
satu dengan masyarakat. Demokrasi bukanlah hal yang umum lagi bagi masyarakat
Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa demokrasi di Indonesia sudah menjadi
suatu budaya, dengan maksud demokrasi sudah menjadi sesuatu yang mendarah
daging bagi masyarakat Indonesia dan eluruh kehidupan warga Indonesi diwarnai
oleh nilai-nilai demokrasi. Namun, apakah penggunaan demokrasi sudah benar?
Sudahkah bangsa Indonesia menyadari apa arti sesungguhnya berdemokrasi? Apakah
demokrasi di Indonesia sudah sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya?
Demokrasi sebenarnya merupakan suatu kebebasan dalam mengeluarkan pendapat,
namun bebas yang diartikan oleh bangsa kita, Indonesia, masih belum benar.
Masih ada beberapa orang yang melalampaui garis batas bebas tersebut, bahkan di
media massa kita sering mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah
itu sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Pemahaman yang dimengerti tentang
demokrasi oleh setiap orang berbeda-beda, maka dari itu tidak semua orang menjalani
demokrasi dengan sejalan, ke arah yang lebih positif.
Pada kenyataannya, demokrasi diterapkan untuk menciptakan
masyarakat yang madani. Menurut sebuah buku, masyarakat madani adalah
masyarakat dengan ciri-cirinya yang terbuka, egaliter, bebas dari tekanan negar.
Di negara Indonesia, masyarakat madani hanya dapa dilihat dari segi teori,
namun apabila dilihat dari kenyataannya masih banyak warga Indonesia yang tidak
memiliki ciri – ciri dari masyarakat madani itu. Di beberapa kalangan telah
diterapkan sifat terbuka, namun terbuka yang bagaimanakah itu? Terbuka disini
yang dimaksud adalah terbuka dalam konteks – konteks wajar, bertanggung jawab,
dan tidak merusak. Tetapi, apakah yang terjadi pada bangsa Indonesia? Lagi –
lagi kesalah pahaman tentang arti keterbukaan.
Penerapan demokrasi di Indonesia masih kurang layak, masih
banyak aksi brutal yang mengatas namakan “demokrasi”, padahal, menyampaikan
pendapat, tidaklah harus dengan berdemonstrasi, meskipun warga Indonesia diberi
kebebasan berpendapat, seharusnya para demonstran brutal menyadari, demokrasi
bukanlah suatu awal dari kehancuran, tetapi demokrasi adalah pintu menuju arah
kebajikan, karena seharusnya, jika suatu negara memiliki sistem demokrasi,
negara itu akan berkembang jauh lebih pesat dari negara lainnya. Mengapa?
Karena dengan adanya demokrasi, semua pendapat tersalur, dan semakin banyak
argumen argumen yang dapat memanjukan sebuah negara, makin banyak kritik dan
saran untuk memperbaiki sebuah bangsa, bahkan rakyatnya pun seharusnya lebih
kompetitif untuk membuat suatu hal yang dapat memperbaiki bangsanya.
Bagimanakah cara menanganinya? Yang dibutuhkan adalah
kesadaran akan apa itu arti demokrasi yang sebenarnya, kesadaran akan apa saja
yang dibutuhkan untuk membuat suatu negara demokrasi lebih maju. Dapat kita
lihat, penyalahgunaan arti demokrasi banyak terjadi pada tahun 1998. Disini
terjadi pengalaman pahit yang menimpa Pancasila, banyak pemberontakan dimana
mana, banyak manipulasi atas pancasila, banyak terjadi pelanggaran HAM dimana –
mana. Dalam kejadian itu sangat minim sekali kesadaran akan apakah demokrasi
itu sebenarnya. Tidak hanya pada tahun 1998, pada kenyataannya, sekarang banyak
orang yang melanggar demokrasi. Contohnya saja FPI, FPI adalah suatu gerakan
yang sebenarnya ingin membawa Indoensia kearah yang lebih baik, memperbaiki
akhlak warga Indonesia, dan memprotes semua yang sesat. Namun, apakah cara yang
FPI gunakan benar? Tentu tidak. Demokrasi seharusnya disampaikan dengan cara
yang baik, bukan dengan cara brutal yang dapat menimbulkjan efek kehancuran,
karena aksi brutal bukan hanya merugikan yang di protes, namun asset negara,
fasilitas – fasilitas negara juga dapat rusak dengan aksi – aksi brutal para
pembrontak. Demonstrasi atas nama rakyat tetapi aset publik milik rakyat dihancurkan
juga. Bahkan terkadang demonstrasi merugikan dan menimbulkan keresahan rakyat.
Bukan hanya itu, para mahasiswa yang seharusnya menjadi calon generasi
selanjutnya juga ikut melakukan penyalahgunaan arti makna demokrasi. Seharusnya
mahasiswa lebih mengerti akan arti demokrasi, karena mahasiswa adalah calon
penerus bangsa yang berpendidikan. Tetapi pada masa kini alangkah banyak
mahasiswa yang melakukan aksi butal, penyalah gunaan arti demokrasi, mengatas
namakan demokrasi, padahal mereka hanya memenangkan keegoisan mereka, untuk
mendapatkan kepuasan pribadi atas menangnya pendapat mereka yang padahal sama
sekali tidak ada manfaatnnya.
Bukan hanya dari segi kebrutalan, namun kita bias lihat dari
satu sisi yang seakan akan aman, dan menghargai demokrasi. Contohnya pemilihan
umum. Masih banyak hal hal mengganjal dalam pemilu yang seharusnya dihapuskan.
Pemilu adalah seuatu media dimana rakyat dapat menyalurkan pendapatnya dengan
memilih pemimpin mana yang cocok untuk membangun Indonesia. Mengadakan pemilu
juga merupakan suatu usaha untuk mewujudkan masyarakat yang madani. Di dalam
pemilu terdapat aspek demokrasi yang begitu besar di dalamnya. Namun bagaimana
dengan kenyataannya? Faktanya dalam pelaksanaannya saja masih ada hal hal
ganjal. Contohnya, belum ada pemilu di Indonesia yang benar benar bersih, pada
saat pemilihan presiden 2009, masih ada beberapa pelanggaran yang terjadi di
setiap partai yang sengaja dilakukan di daerah yang berbeda beda, seperti yang
telah diberitakan di suatu situs berita.
Untuk mengatasi hal itu semua diperlukan kesadaran akan arti
demokrasi. Demokrasi bukan hanya berarti kebebasan, tetapi demokrasi juga
menghargai, tentu dengan disertai pertanggungjawaban. Seharusnya demokrasi
menjadikan masyarakat dapat hidup mandiri dengan tidak banyak mengharapkan
bantuan dari pihak lain. Alangkah lebih baik, jika demokrasi yang bangsa
Indonesia terapkan sekarang adalah menghargai kebebasan untuk berpendapat dalam
membangun Indonesia kearah yang lebih baik.
Sumber :
Ubaedillah, A,;Rozak,Abdul.2008. Pendidikan Kewarganegaraan : Hak Asasi Manusia dan Masyarakat
Madani
S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar