Rabu, 23 November 2011

Diberi kebebasan, mengacuhkan tanggung jawab


Setiap orang pasti mengenal demokrasi, apalagi setelah lahirnya era reformasi, demokrasi menjadi seperti air dan gula yang menjadi satu dengan masyarakat. Demokrasi bukanlah hal yang umum lagi bagi masyarakat Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa demokrasi di Indonesia sudah menjadi suatu budaya, dengan maksud demokrasi sudah menjadi sesuatu yang mendarah daging bagi masyarakat Indonesia dan eluruh kehidupan warga Indonesi diwarnai oleh nilai-nilai demokrasi. Namun, apakah penggunaan demokrasi sudah benar? Sudahkah bangsa Indonesia menyadari apa arti sesungguhnya berdemokrasi? Apakah demokrasi di Indonesia sudah sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya? Demokrasi sebenarnya merupakan suatu kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, namun bebas yang diartikan oleh bangsa kita, Indonesia, masih belum benar. Masih ada beberapa orang yang melalampaui garis batas bebas tersebut, bahkan di media massa kita sering mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu sendiri, melanggar nilai-nilai demokrasi. Pemahaman yang dimengerti tentang demokrasi oleh setiap orang berbeda-beda, maka dari itu tidak semua orang menjalani demokrasi dengan sejalan, ke arah yang lebih positif.
Pada kenyataannya, demokrasi diterapkan untuk menciptakan masyarakat yang madani. Menurut sebuah buku, masyarakat madani adalah masyarakat dengan ciri-cirinya yang terbuka, egaliter, bebas dari tekanan negar. Di negara Indonesia, masyarakat madani hanya dapa dilihat dari segi teori, namun apabila dilihat dari kenyataannya masih banyak warga Indonesia yang tidak memiliki ciri – ciri dari masyarakat madani itu. Di beberapa kalangan telah diterapkan sifat terbuka, namun terbuka yang bagaimanakah itu? Terbuka disini yang dimaksud adalah terbuka dalam konteks – konteks wajar, bertanggung jawab, dan tidak merusak. Tetapi, apakah yang terjadi pada bangsa Indonesia? Lagi – lagi kesalah pahaman tentang arti keterbukaan.
Penerapan demokrasi di Indonesia masih kurang layak, masih banyak aksi brutal yang mengatas namakan “demokrasi”, padahal, menyampaikan pendapat, tidaklah harus dengan berdemonstrasi, meskipun warga Indonesia diberi kebebasan berpendapat, seharusnya para demonstran brutal menyadari, demokrasi bukanlah suatu awal dari kehancuran, tetapi demokrasi adalah pintu menuju arah kebajikan, karena seharusnya, jika suatu negara memiliki sistem demokrasi, negara itu akan berkembang jauh lebih pesat dari negara lainnya. Mengapa? Karena dengan adanya demokrasi, semua pendapat tersalur, dan semakin banyak argumen argumen yang dapat memanjukan sebuah negara, makin banyak kritik dan saran untuk memperbaiki sebuah bangsa, bahkan rakyatnya pun seharusnya lebih kompetitif untuk membuat suatu hal yang dapat memperbaiki bangsanya.
Bagimanakah cara menanganinya? Yang dibutuhkan adalah kesadaran akan apa itu arti demokrasi yang sebenarnya, kesadaran akan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat suatu negara demokrasi lebih maju. Dapat kita lihat, penyalahgunaan arti demokrasi banyak terjadi pada tahun 1998. Disini terjadi pengalaman pahit yang menimpa Pancasila, banyak pemberontakan dimana mana, banyak manipulasi atas pancasila, banyak terjadi pelanggaran HAM dimana – mana. Dalam kejadian itu sangat minim sekali kesadaran akan apakah demokrasi itu sebenarnya. Tidak hanya pada tahun 1998, pada kenyataannya, sekarang banyak orang yang melanggar demokrasi. Contohnya saja FPI, FPI adalah suatu gerakan yang sebenarnya ingin membawa Indoensia kearah yang lebih baik, memperbaiki akhlak warga Indonesia, dan memprotes semua yang sesat. Namun, apakah cara yang FPI gunakan benar? Tentu tidak. Demokrasi seharusnya disampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan cara brutal yang dapat menimbulkjan efek kehancuran, karena aksi brutal bukan hanya merugikan yang di protes, namun asset negara, fasilitas – fasilitas negara juga dapat rusak dengan aksi – aksi brutal para pembrontak. Demonstrasi atas nama rakyat tetapi aset publik milik rakyat dihancurkan juga. Bahkan terkadang demonstrasi merugikan dan menimbulkan keresahan rakyat. Bukan hanya itu, para mahasiswa yang seharusnya menjadi calon generasi selanjutnya juga ikut melakukan penyalahgunaan arti makna demokrasi. Seharusnya mahasiswa lebih mengerti akan arti demokrasi, karena mahasiswa adalah calon penerus bangsa yang berpendidikan. Tetapi pada masa kini alangkah banyak mahasiswa yang melakukan aksi butal, penyalah gunaan arti demokrasi, mengatas namakan demokrasi, padahal mereka hanya memenangkan keegoisan mereka, untuk mendapatkan kepuasan pribadi atas menangnya pendapat mereka yang padahal sama sekali tidak ada manfaatnnya.
Bukan hanya dari segi kebrutalan, namun kita bias lihat dari satu sisi yang seakan akan aman, dan menghargai demokrasi. Contohnya pemilihan umum. Masih banyak hal hal mengganjal dalam pemilu yang seharusnya dihapuskan. Pemilu adalah seuatu media dimana rakyat dapat menyalurkan pendapatnya dengan memilih pemimpin mana yang cocok untuk membangun Indonesia. Mengadakan pemilu juga merupakan suatu usaha untuk mewujudkan masyarakat yang madani. Di dalam pemilu terdapat aspek demokrasi yang begitu besar di dalamnya. Namun bagaimana dengan kenyataannya? Faktanya dalam pelaksanaannya saja masih ada hal hal ganjal. Contohnya, belum ada pemilu di Indonesia yang benar benar bersih, pada saat pemilihan presiden 2009, masih ada beberapa pelanggaran yang terjadi di setiap partai yang sengaja dilakukan di daerah yang berbeda beda, seperti yang telah diberitakan di suatu situs berita.
Untuk mengatasi hal itu semua diperlukan kesadaran akan arti demokrasi. Demokrasi bukan hanya berarti kebebasan, tetapi demokrasi juga menghargai, tentu dengan disertai pertanggungjawaban. Seharusnya demokrasi menjadikan masyarakat dapat hidup mandiri dengan tidak banyak mengharapkan bantuan dari pihak lain. Alangkah lebih baik, jika demokrasi yang bangsa Indonesia terapkan sekarang adalah menghargai kebebasan untuk berpendapat dalam membangun Indonesia kearah yang lebih baik.

Sumber :
Ubaedillah, A,;Rozak,Abdul.2008. Pendidikan Kewarganegaraan : Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani

S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar