Masa kini kebanyakan anak anak lebih suka menonton film
animasi buatan luar negeri seperti Jepang, Inggris, Amerika, bahkan Malaysia.
Bukannya bangsa kita tidak memiliki kemampuan yang sama, hanya saja karya anak
bangsa kurang dihargai. Contohnya saja kartun Upin dan Ipin, kartun Upin dan
Ipin adalah hasil karya anak bangsa yang tidak laku dijual di perfilman kartun
Indonesia, Upin Ipin tersebut dibuat mahasiswa dari ITB, mereka menawarkan
kepada pengusaha dalm negeri namun tidak ada yang mau membelinya. Akhirnya
Negara tetangga kita Malaysia membelinya, dan apa yang terjadi sekarang? Film
Upin dan Ipin digemari oleh anak anak Indonesia. Alangkah tidak pekanya bangsa
kita, membuang karya yang cemerlang dan pada akhirnya karya itu dibeli oleh
Negara lain, dan sekarang karya itu semakin terkenal. Itulah bangsa Indonesia,
selalu mengalah sebelum berperang. Tidak ada satupun home production yang
berani mengambil resiko untuk membeli film Upin dan Ipin lalu memproduksinya
sebagai film Indonesia. Lihat, apa yang terjadi sekarang, bangsa kita hanya
dapat berkata “Kami bangga, karena film Upin dan Ipin adalah hasil karya anak
bangsa.” Namun apa? Karya itu telah dibeli oleh bangsa lain, dan telah menjadi
hak milik bangsa lain. Anak bangsa sekarang telah menggemari film itu bukan
sebagai film Indonesia, tetapi sebagai film Negara lain.
Dalam kehidupan sehari hari saja, kita bisa melihat
kebanyakan anak anak Indonesia lebih menyukai film kartun seperti Naruto,
Spongebob, Upin dan Ipin, Dragon Ball dibandingkan dengan film asli buatan
Indonesia Unyil, yang menceritakan kebudayaan Indonesia. Dalam kenyataannya
kita bisa membuktikan, Tanya saja kepada salah satu anak tentang Upin Ipin lalu
tanyakan tentang Unyil, tentu saja sebagian besar dari mereka lebih mengetahui
tentan Upin Ipin. "Kalau menurut
saya, film animasi dari luar negeri seharusnya dilarang beredar. Kita kadang
harus meniru China yang sangat memihak industri kreatif dalam negeri. Stop
impor animasi!" seperti yang
dikutip dari http://bataviase.co.id/node/332538 ihat
saja kutipan itu, ia sangat menentang beradarnya film luar negeri di Indonesia,
itu dapat membuat anak Indonesia kehilangan identatas nasionalnya, karena
dengan menonton film animasi buatan luar negeri, mereka mendapatkan pengetahuan
budaya luar negeri, bukan budaya Indonesia. Sejak kecil saja mereka sudah
dijejali berbagai asupan film luar negeri, lama kelamaan anak anak Indonesia
tidak mengenal lagi bangsa mereka sendiri. Hal ini terjadi karena budaya bahwa
menganggap impor itu lebih populer di banding produk lokal. Selain itu,
kurangnya innovator juga menyebabkan rendahnya produk kartun Indonesia. Walaupun
sudah banyak creator namun tidak akan berjalan tanpa adanya innovator yang
dapat mendukung para creator untuk membuat karya karya merera.
Lihat saja pada kenyataannya, yang mana yang lebih ditunggu
anak anak Indonesia, tentu mereka lebih menunggu sponge bob pada sore hari,
kebanding menonton laptop si Unyil pada sore harinya. Padahal film film anak
Indonesia menyisipkan banyak edukasi tentang Indonesia. Bagaimana tidak kebudayaan kita dicuri oleh
bangsa lain, sedangkan bangsa kita saja tidak begitu menyadari identitas
bangsanya, para orang tua dengan santainya membiarkan anak mereka terpaku
menonton kartun buatan luar negeri. Tidak hanya dari pihak pemroduksi film
kartun, namun dari pihak orang tuanya pun harus kita perhatikan, apakah mereka
sendiri menyadari efek dari menonton film kartun buatan luar negeri untuk anak
anak mereka. Bukan tidak ada pergerakan untuk memunculkan lagi film anak anak
buatan Indonesia, ada, namun bagaimana bisa itu semua dihindari, sedangkan film
kartun luar negeri saja masih beredar luas di stasiun stasiun Indonesia.
Suatu kenyataan lagi yang sering kita jumpai, banyak anak
anak yang meniru niru kebudayaan luar negeri lewat film yang telah mereka
tonton. Contohnya saja mulai dari cara berbicara, mereka senang berbicara
mengikuti logat Upin dan Ipin daripada menirukan gaya bicara pak Ogah di film
Unyil. Sungguh sesuatu yang sangat mengenaskan di kancah perfilman anak anak
Indonesia. Kalau dari kecil saja mereka suda tidak mengenali bangsanya sendiri
bagaimana mereka pada saat besar nanti? Bagaimana bangsa kita bisa maju?
Sedangkan generasi penerusnya saja tidak memiliki identitas nasional, tidak
memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan bahkan tidak tahu apa yang menjadi
identitas bangsanya. Ini semua memerlukan perhatian yang sangat lebih dari kita
semua. Biasakan anak anak Indonesia mencintai apa yang menjadi produksi bangsa
mereka sendiri, jangan terus jejali apa yang di produkasi dari bangsa lain.
Bantulah anak Indonesia memiliki Identitas Nasional sedini mungkin. Kepada para
industrial kartu di Indonesia juga diperlukan pehatiannya, agar sadar akan
peran kartun Indonesia dalam hal pengembangan identitas nasional dari diri
seorang anak berusia dini.
Referensi :
http://goyangkarawang.com/2010/10/film-upin-dan-ipin-di-tpi-dan-film-anak-lainnya-di-stasiun-tv-indonesia/
S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan
Maaf, ada gak bukti lain bahwa Upin Ipin ini karya Indonesia? Kok saya cari di Google gak ada yang bilang itu karya Indonesia? Yang ada cuman karya mahasiswa Universitas Multimedia di negara saya
BalasHapusIndon..suka ngaku2 benda yg bukan milik mereka..!
BalasHapusIndon..suka ngaku2 benda yg bukan milik mereka..!
BalasHapusMaaf, ini adalah information yang salah. Sila buat rujukan terlebih dahulu. Sila baca wikipedia mengenai upin ipin. Ini adalah fitnah. Hati - hati sebab hal ini boleh menyebabkan anda di saman kerna menyebarkan information yang salah. Kalau anda rasa information itu betul kenapa tak saman les copaque?
BalasHapus