Rabu, 23 November 2011

Kok Anak Indonesia Lebih Suka Kartun Buatan Negara lain ? Dimanakah Identiatas Nasional Mereka?


Masa kini kebanyakan anak anak lebih suka menonton film animasi buatan luar negeri seperti Jepang, Inggris, Amerika, bahkan Malaysia. Bukannya bangsa kita tidak memiliki kemampuan yang sama, hanya saja karya anak bangsa kurang dihargai. Contohnya saja kartun Upin dan Ipin, kartun Upin dan Ipin adalah hasil karya anak bangsa yang tidak laku dijual di perfilman kartun Indonesia, Upin Ipin tersebut dibuat mahasiswa dari ITB, mereka menawarkan kepada pengusaha dalm negeri namun tidak ada yang mau membelinya. Akhirnya Negara tetangga kita Malaysia membelinya, dan apa yang terjadi sekarang? Film Upin dan Ipin digemari oleh anak anak Indonesia. Alangkah tidak pekanya bangsa kita, membuang karya yang cemerlang dan pada akhirnya karya itu dibeli oleh Negara lain, dan sekarang karya itu semakin terkenal. Itulah bangsa Indonesia, selalu mengalah sebelum berperang. Tidak ada satupun home production yang berani mengambil resiko untuk membeli film Upin dan Ipin lalu memproduksinya sebagai film Indonesia. Lihat, apa yang terjadi sekarang, bangsa kita hanya dapat berkata “Kami bangga, karena film Upin dan Ipin adalah hasil karya anak bangsa.” Namun apa? Karya itu telah dibeli oleh bangsa lain, dan telah menjadi hak milik bangsa lain. Anak bangsa sekarang telah menggemari film itu bukan sebagai film Indonesia, tetapi sebagai film Negara lain.
Dalam kehidupan sehari hari saja, kita bisa melihat kebanyakan anak anak Indonesia lebih menyukai film kartun seperti Naruto, Spongebob, Upin dan Ipin, Dragon Ball dibandingkan dengan film asli buatan Indonesia Unyil, yang menceritakan kebudayaan Indonesia. Dalam kenyataannya kita bisa membuktikan, Tanya saja kepada salah satu anak tentang Upin Ipin lalu tanyakan tentang Unyil, tentu saja sebagian besar dari mereka lebih mengetahui tentan Upin Ipin.  "Kalau menurut saya, film animasi dari luar negeri seharusnya dilarang beredar. Kita kadang harus meniru China yang sangat memihak industri kreatif dalam negeri. Stop impor animasi!" seperti  yang dikutip dari http://bataviase.co.id/node/332538 ihat saja kutipan itu, ia sangat menentang beradarnya film luar negeri di Indonesia, itu dapat membuat anak Indonesia kehilangan identatas nasionalnya, karena dengan menonton film animasi buatan luar negeri, mereka mendapatkan pengetahuan budaya luar negeri, bukan budaya Indonesia. Sejak kecil saja mereka sudah dijejali berbagai asupan film luar negeri, lama kelamaan anak anak Indonesia tidak mengenal lagi bangsa mereka sendiri. Hal ini terjadi karena budaya bahwa menganggap impor itu lebih populer di banding produk lokal. Selain itu, kurangnya innovator juga menyebabkan rendahnya produk kartun Indonesia. Walaupun sudah banyak creator namun tidak akan berjalan tanpa adanya innovator yang dapat mendukung para creator untuk membuat karya karya merera.
Lihat saja pada kenyataannya, yang mana yang lebih ditunggu anak anak Indonesia, tentu mereka lebih menunggu sponge bob pada sore hari, kebanding menonton laptop si Unyil pada sore harinya. Padahal film film anak Indonesia menyisipkan banyak edukasi tentang Indonesia.  Bagaimana tidak kebudayaan kita dicuri oleh bangsa lain, sedangkan bangsa kita saja tidak begitu menyadari identitas bangsanya, para orang tua dengan santainya membiarkan anak mereka terpaku menonton kartun buatan luar negeri. Tidak hanya dari pihak pemroduksi film kartun, namun dari pihak orang tuanya pun harus kita perhatikan, apakah mereka sendiri menyadari efek dari menonton film kartun buatan luar negeri untuk anak anak mereka. Bukan tidak ada pergerakan untuk memunculkan lagi film anak anak buatan Indonesia, ada, namun bagaimana bisa itu semua dihindari, sedangkan film kartun luar negeri saja masih beredar luas di stasiun stasiun Indonesia.
Suatu kenyataan lagi yang sering kita jumpai, banyak anak anak yang meniru niru kebudayaan luar negeri lewat film yang telah mereka tonton. Contohnya saja mulai dari cara berbicara, mereka senang berbicara mengikuti logat Upin dan Ipin daripada menirukan gaya bicara pak Ogah di film Unyil. Sungguh sesuatu yang sangat mengenaskan di kancah perfilman anak anak Indonesia. Kalau dari kecil saja mereka suda tidak mengenali bangsanya sendiri bagaimana mereka pada saat besar nanti? Bagaimana bangsa kita bisa maju? Sedangkan generasi penerusnya saja tidak memiliki identitas nasional, tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan bahkan tidak tahu apa yang menjadi identitas bangsanya. Ini semua memerlukan perhatian yang sangat lebih dari kita semua. Biasakan anak anak Indonesia mencintai apa yang menjadi produksi bangsa mereka sendiri, jangan terus jejali apa yang di produkasi dari bangsa lain. Bantulah anak Indonesia memiliki Identitas Nasional sedini mungkin. Kepada para industrial kartu di Indonesia juga diperlukan pehatiannya, agar sadar akan peran kartun Indonesia dalam hal pengembangan identitas nasional dari diri seorang anak berusia dini.

Referensi :
http://goyangkarawang.com/2010/10/film-upin-dan-ipin-di-tpi-dan-film-anak-lainnya-di-stasiun-tv-indonesia/




S Hanny Lismora Idrus
1112003004
hannylismora@gmail.com
Teknik Industri,Universitas Bakrie, Jakarta Selatan

4 komentar:

  1. Maaf, ada gak bukti lain bahwa Upin Ipin ini karya Indonesia? Kok saya cari di Google gak ada yang bilang itu karya Indonesia? Yang ada cuman karya mahasiswa Universitas Multimedia di negara saya

    BalasHapus
  2. Indon..suka ngaku2 benda yg bukan milik mereka..!

    BalasHapus
  3. Indon..suka ngaku2 benda yg bukan milik mereka..!

    BalasHapus
  4. Maaf, ini adalah information yang salah. Sila buat rujukan terlebih dahulu. Sila baca wikipedia mengenai upin ipin. Ini adalah fitnah. Hati - hati sebab hal ini boleh menyebabkan anda di saman kerna menyebarkan information yang salah. Kalau anda rasa information itu betul kenapa tak saman les copaque?

    BalasHapus